A journey part I

Akhirnya setelah sekian lama direncakan, perjalanan pun terlaksana. Memanfaatkan libur yang didalamnya ada hari kejepit nasional, libur panjang pun bisa didapatkan dengan syarat potong cuti satu hari. That’s ok. Mumpung masih muda dan bisa kemana-kemana dan tidak ada kerjaan yang terlalu mengekang, meskipun tetap harus memikirkan kerjaan. Selain jalan-jalan, tentunya pasti ada misi terselubung. Misi yang sudah terlalu lama tidak jadi-jadi dan hampir kadaluarsa.

Singkat cerita, setelah dua minggu memikirkan kemana tujuan yang akan dituju, akhirnya dua kota harus dijalani sekalian. Awalnya satu kota, namun sejalannya waktu tiba-tiba pemikiran berubah. Perencanaan pun dimatangkan, Batam dan Medan adalah kota tersebut. Mengapa kedua kota tersebut, pasti ada cerita dibalik semuanya.

Batam, sebuah kota dan pulau yang dekat dengan Singapura, tinggal sejam naik perjalanan laut. Didaerah saya dulu ketika masa saya anak sekolahan, Batam ini sangat terkenal karena banyak orang-orang dari daerah saya yang mencari pekerjaan ke tempat ini. Habis menyelesaikan dan tamat SMA langsung berangkat ke Batam.

Perjalanan kali ini adalah pertama kali saya menginjakkan kaki di Batam. Dua hari berada ditempat ini, lumayan banyak daerah yang dilalui meskipun hanya lewat saja lewat jalan utama. Apalagi lokasi bandara dan tempat tujuan yang berada di ujung ke ujung. Jalanannya bagus dan tidak terlalu banyak ditemukan jalan berlobang seperti di Jkt yang tiap hari selalu ada penambalan. Didaerah ini masih sangat banyak pohon dan hutan aslinya dan yang saya amati dalam perjalanan yang dilewati dan cerita-cerita yang tinggal disana bahwa daerah Batam ini lagi berkembang dan dibuktikan dengan banyaknya bangunan dan perumahan yang sedang dibangun sepanjang daerah yang dilewati.

Jembatan Balerang adalah salah satu tempat yang harus dikunjungi jika datang ke daerah ini. Dan tidak salah lagi, saya langsung dibawa ketempat ini sebelum bepergian lagi ke pulau-pulau disekitarnya. Jembatan ini berdiri berdiri begitu megahnya dan sangat ramai dikunjungi orang-orang yang sedang melancong atau hanya nongkrong saja. Jembatan ini menghubungkan dua pulau yang ada di Batam ini, dan bentuknya seperti jembatan San Fransisco yang ada di Amerika kalau tidak salah.

Perjalanan ke Batam ini sepertinya dikasi bonus, menyeberang ke Pulau Bintan, Tanjung Pinang ibukota Kepulauan Riau. Pertama kalinya juga naik kapal laut komersial meskipun sebelumnya pernah naik kapal laut ke kepulauan Seribu, tetapi kapal-kapal ilegal yang tingkat keselamatan didalamnya masih sangat minim dan duduknya pun tidak jelas entah bagaimana. Kapal-kapal laut ini sepertinya sudah melaksanakan pola keselamatan yang baik dan pelayanan, terbukti dengan adanya pelampung dan tempat duduk yang nyaman serta ber AC dan adanya hiburan yaitu televisi untuk menemani perjalanan. Waktu tempuh dari pelabuhan di Batam ke tempat ini kurang lebih satu jam. Sangat menarik dan indah sekali selama perjalanan laut ini, kiri-kanan melewati banyak pulau-pulau kecil yang tidak habisnya. Kebetulan saat itu sudah menjelang malam dan akhirnya saya bisa menikmatinya ketika balik lagi ke Batam dan perjalanan lautnya adalah siang hari.

Banyak cerita banyak kisah dan banyak dilalui, alangkah baiknya itu terekam supaya bisa dilihat lagi dilain waktu. Tipsnya adalah menyediakan kamera setidaknya kamera saku atau kamera handphone, tidak harus kamera yang canggih-canggih. Satu lagi syaratnya, itu alat dipastikan baterainya diisi penuh biar tidak menyesal nantinya.

100520131722, sebuah catatan membuang kemalasan waktu tunggu keberangkatan, Hang Nadim Batam