Journey part II, a first time

Masih teringat dibenak saya sekitar beberapa minggu lalu, 11 Mei. Banyak hal yang serba pertama kali saya lakukan. Ini adalah bagian dari perjalanan yang saya lakukan namun diluar yang direncanakan.

Semua terjadi hanya karena berada di tempat dan waktu yang tepat. Masuk hotel berbintang *****, masuk cafe sendirian dilarut malam, dan akhirnya membawa gerombolan ke klub malam. Semua serba mendukung, bisa dipastikan mereka juga demikian, terbukti dengan belum adanya jejak historikal masing-masing.

Setelah berembuk dan ada kata sepakat, yang sebelumnya juga baru menghabiskan malam itu di cafe yang tidak jauh dari tempat club malam tersebut. Jam sudah menunjukkan jam tiga pagi lebih, tetapi karena semua merasa penasaran dan belum pernah, dengan gaya dan tampang sangar layaknya orang berpengalaman akhirnya maju pantang mundur.

Ternyata club malam juga punya aturan khusus, yang masuk harus pakai sepatu. Alhasil semua pake sandal, untung bukan sandal jepit. Setelah negoisasi dan berbasa-basi dengan petugas  keamanan yang tampang sangar dan berbadan besar, masuklah sudah setelah membayar uang masuk sekian puluh ribu per orangnya yang nantinya bisa ditukarkan dengan minuman.

Musik keras dan dentuman musik dari para DJ seakan membuat jantung copot. Yah… isinya adalah lautan manusia yang sedang mencari kepuasan diri dengan menari-nari diiringi musik dan lampu club malam seperti yang di tv-tv.

Tanpa disadari tubuh ini juga  terbawa irama dentuman musik meskipun sangat pekak ditelinga. Sekali-kali mata ini dengan liar mengamati akfitivitas orang sekitar, berusaha menembus setiap pergerakan orang dikerlap-kerlipnya lampu diskotik, memandangi setiap sudut ruangan.

Inilah kehidupan malam, kehidupan duniawi, kehidupan dunia kota, semua bisa terjerumus kedalamnya jika tidak bisa menjaga dan mengontrol diri. It’s enough only one hour spend the time in this place. Morning, already.

Lesson learn, hotel dan tempat hiburan disekitarnya adalah satu paket yang saling mendukung. Club malam itu tidak selalu buruk, karena sebagian orang hidup dari dan didalamnya.