Ketika Sepatu Mengajarkan Kita Tentang Cinta

Lihat kaskus hari ini dan melihat Forum Hot Threads, perumpamaan tentang sepatu sangat cocok sekali dan menarik saya lihat. Setelah baca-baca, banyak benarnya juga. Ternyata ini bulan February, bulan cinta katanya. :D

Berikut saya kopas:

It Takes Time.
Pertama kali memakai sepatu yang baru dibeli, rasanya enggak nyaman banget. Tapi lama-lama, setelah dipakai berkali-kali, kita pun akan merasa nyaman. Sama halnya dengan pacaran, gan. Ketika first date terasa awkward, itu wajar, kok. Lama-lama, setelah saling mengenal, kita pun akan merasa nyaman.

To Keep or Not To Keep.
Ketika memakai sepatu, kita punya hak penuh untuk memakainya kapan saja dan ke mana saja. Ketika sepatu tersebut sudah enggak layak pakai, seperti solnya rusak dan membuat kaki jadi enggak nyaman, kita punya hak untuk membuangnya. Begitu juga dengan pacaran. Ketika pacar sudah enggak lagi membuat kita nyaman atau malah sudah menyakiti, kita punya hak untuk memutuskannya.

It’s Not About Physycal.
Bukan berarti semua sepatu yang terlihat bagus akan membuat kita merasa nyaman saat memakainya. Begitu juga dengan gebetan agan. Enggak selamanya cewek super cantik/cowok super ganteng di sekolah/tempat kerja/dll akan memperlakukan kita dengan baik atau cocok dengan kita. Bisa saja cowok/cewek biasa teman kita selama ini yang enggak jadi cowok populer malah yang paling mengerti kita.

Beware of Warning Sign.
Ketika memakai sepasang sepatu, kita merasa nyaman selama beberapa jam lalu tiba-tiba kaki terasa sakit. Mungkin karena bahan sepatu yang tidak nyaman atau hak yang terlalu tinggi bagi para sista sehingga kaki terasa nyeri. Begitu tanda-tanda ini mulai terasa, kita memilih untuk melepas sepatu itu. Sama halnya dengan pacaran. Jika sudah mulai muncul tanda-tanda hubungan akan berakhir atau melihat banyak dating red flags bermunculan, sudah saatnya untuk memikirkan kemungkinan putus. Seperti kaki yang terasa nyaman setelah membuka sepatu, putus juga bisa membuat kita merasa nyaman.

Know the Strength.
Sepasang sepatu cocoknya hanya dipakai saat pesta. Sepatu yang lain akan melindungi kita saat musim hujan. Jadi, enggak ada sepatu yang sempurna yang bisa dipakai ke setiap kondisi. Sama halnya dengan gebetan/kekasih kita. Kita harus menerima setiap kekurangan dan kelebihannya karena itulah yang akan membuat kita merasa sempurna.

Never Get Enough.
Kebanyakan kita enggak pernah merasa puas dengan sepatu. Selalu ada aja alasan untuk membeli sepatu baru sehingga enggak pernah menetapkan limit. Dalam mencari pasangan hidup, kita bisa memakai prinsip yang sama. Jika gebetan yang sedang dekat dengan kita enggak memenuhi ‘limit’ jangan dipaksakan hanya karena kita pengin punya pacar. Masih banyak cowok lain di luar sana yang lebih cocok dengan kita, girls.

Making Own Choice.
Ketika membeli sepatu, kita sering meminta nasihat teman atau keluarga. Tapi, keputusan akhir ada di tangan kita untuk memilih separtu yang cocok karena kitalah yang akan memakainya. Sama halnya dengan memilih cowok. Nasihat orang lain itu penting, tapi keputusan akhir ada di tangan kita. Karena kitalah yang akan berpacaran dengannya. Dan, kita juga yang paling tahu siapa yang paling cocok untuk kita.

Don’t Face Too Hard.
Sebagus apapun sepasang sepatu itu, jika nomornya kekecilan atau kebesaran, hanya akan menyakiti kaki kita. jadi, jangan dipaksakan. Begitu juga dengan gebetan. Jika memang enggak cocok, jangan dipaksakan.

There is Another.
Hanya karena sepasang sepatu membuat kaki terasa sakit, bukan berarti kita berhenti memakai sepatu. Pasti ada sepatu lain yang nyaman di kaki. Dan, ketika kita disakiti oleh seseorang, bukan berarti kita berhenti untuk jatuh cinta. Yakin deh, pasti ada orang lain di luar sana yang akan membuat kita kembali percaya kepada cinta.

Sumber kaskus