My little story about teeth

Beberapa saat lalu saya pergi ke dokter gigi untuk menindak lanjuti apa yang menjadi keluahan saya dua minggu lalu sebelumnya. Untung saya tidak mengambil keputusan yang terburu-buru sebelumnya yang berniat untuk mencabut saja gigi yang sakit dan tidak bersahabat.

Beberapa informasi coba saya cari di Internet apakah mencabut itu jalan terbaik, setelah pemikiran yang mendalam dan terpastikan akhirnya tidak. Disana disarankan kalau memang selagi bisa dipertahankan untuk tidak dicabut, janganlah dicabut karena memiliki dampak pada bagian tubuh yang lain. Kalau memang tidak terlalu parah dan masi memiliki akar yang kuat, ditambal saja dan serahkan kepada ahlinya sang dokter gigi. Saya juga punya pertimbangan karena membayangkan dokter mencabut gigi dengan tang dan dengan biusan yang memang membuat menderita dan setelah itu kita tidak bergigi. No lah…

Ternyata tidak sesulit dan seburuk yang saya bayangkan selama ini jika berurusan dengan dokter gigi. Untuk masalah biaya masi bisalah ditolerir dan tidak jahan sebulan, harganya untuk tambal 200.000 rupiah dan juga untuk pembersihan karang gigi bernilai yang sama. Yang paling mahal ketika saya tanya-tanya adalah pasang behel gigi yang nilainya jutaan, sangat menguras kantong. Diatas lapan jutaan!!! hhhmm….

Kejadian ini jadi mengingatkan saya ketika pertama kali gigi bermasalah pas jaman SD akibat sering dan hampir tiap hari makan jambu biji dengan mengunyah habis sampai kebiji-bijinya. Habis rasa terenak pada jambu biji adalah pada biji-bijinya. Itulah anak kecil suka niru-niru apa yang dilakukan orang besar yaitu congkel-congkel gigi sampai berdarah-darah, yah… karena sering makan biji jambu yang keras ditambah congkelan dan belum memperhatikan bagaimana menjaga gigi dengan baik dulunya, yah…. terjadilah lebih baik sakit hati daripada sakit gigi.

Hal kedua yang paling sadis saya rasa adalah mengenai masalah gigi yaitu waktu zaman SMA. Anjis… entah mimpi apa dan harus kenapa, pas makan siang gigi gerahaman saya pecah. Yah kemungkinan di nasi pada saat itu ada batu dan ya namanya makanan dan langsung lumat aja sampe selumat-lumatnya dan terbatasnya waktu makan siang. Sangat sedih dan saya hampir mau nangis saat itu, bukan karena pecahnya, tetapi saya langsung memikirkan efeknya ke depan. Langsung terasa dingin dan ngilu. I just got in pain a moment at the time. This is just my story about teeth. :D