Peliknya hidup ini

Belakangan ini banyak hal yang terpaku dan terngiang dalam otakku, banyak hal yang terpikirkan dan pikiran ini bercabang-cabang. Berbagai sisi kehidupan dan tindak tanduk sekalian menyerang begitu cepat, terkadang satu pemikiran yang satu belum selesai, pemikiran yang lain sudah datang menghampiri. Entah apa dan mengapa, saya harus mencoba mengolah semua pemikiran-pemikiran itu sendirinya, kadang saya harus diam sejenak dan menatap kosong hamparan di depan. Saya coba mengalihkan dan menyembunyikan ketika ada orang mencoba menerka apa yang sedang saya lamunkan, namun dengan segera dan berbagai cara mengatakan tidak dan tersenyum.

Pernah saya dengar atau banyak atau sering orang mengatakan, cobalah berbagi dan bercerita. Atau dengan kata lain, seperti di kebanyakan film ketika seorang wanita atau pria yang mencoba menahan tangisannya, namun akan terasa sangat sesak. Sesak sekali ketika mencoba menahan tangisan itu di depan orang lain, karena kita tidak mau mereka melihatnya. Namun ketika ada yang mencoba mengatakan kepadanya, silahkanlah menangis sepuasnya atau pergi ke dalam kamar atau ke tempat sepi dimana tidak ada orang bisa menjangkau dan melihat, alangkah puasnya tangisan itu.

Kadang juga dalam pikiran saya coba memikirkan orang lain, bagaimana dia berpikir saat ini, apakah yang didalam pikirannya seperti apa yang tampak dari luar? Apakah kelihatannya saja kuat dari luar namun rapuh dari dalam? Apakah pemikirannya sama dengan pemikiran saya? Apakah yang akan terjadi jika saya melakukan seperti ini? Atau apakah yang akan terjadi jika saya membuat suatu keputusan pada saat ini dan waktu dulu? Bagaimana dan apakah dan mengapa? Beribu pertanyaan mengiang-ngiang dalam pemikiran ini entah kapan itu akan berlalu satu per satu.

Selemah itukah saya dan hanya itu kemampuan yang saya miliki dan apakah saya sudah berpuas diri? Kalau saya lemah, tetapi mengapa saya sudah melangkah sejauh ini dan ada dalam tahapan ini, apakah saya harus mundur banyak langkah dan menyesali keputusan-keputusan masa lalu? Apakah saya lebih baik mundur ke titik dimana saya tidak ada dalam masa sekarang ini dan menghapus mundur masa sekarang ke titik tersebut? Semua serba buta dan abu-abu, entah apa dan bagaimana jawabannya.

Saya pernah mencoba lari dari kenyataan tersebut, dengan menidurkan diri sepanjang hari atau melakukan hal-hal yang menurut saya senangi. Namun itu hanya semu, hilang sesaat, habis itu akan datang lagi. Apakah itu adalah karena saya peragu dan ragu dalam menentukan pilihan dalam penyelesaian sehingga butuh waktu lagi dan otak ini harus bercabang lagi menghabiskan energi diri dalam memikirkan dua solusi sekaligus dalam pemilihan terbaik. Sampai saat ini belum bisa temukan apa dan dimana itu, namun pemikiran saya saat ini adalah menghadapi langsung masalah tersebut dan tidak lari dari kenyataan. Namun itulah yang menjadi masalah lagi, menghadapi langsung ketitik permasalahan namun waktu dan lingkungan tidak mendukung sama saja dengan sia-sia.

Ahhhh biarlah saat ini pemikiran-pemikiran itu menghinggapi otak ini dengan leluasa, biarkanlah mereka sendiri yang jenuh sendiri atau tergerumus oleh waktu. Biarlah…biarlah…biarlah atau jangan???? Peragukah saya atau apakah saya??? Macam saya aja yang bunya beban paling berat di dunia ini. Peliknya hidup ini!!!! (aug14)