World Cup, Pemilu, dan Bulan Puasa 2014

Sepak bola, siapakah yang tidak tahu akan kata tersebut, merupakan olah raga terpopuler saat ini di seantero dunia,  olah raga ini adalah olah raga kolektif secara team dan melibatkan banyak orang banyak dalam setiap pementasannya.  Puluhan ribu orang bisa terlibat secara langsung, tergantung kapasitas stadion penyelenggaraannya. Masih lain lagi dengan jutaan mata yang menyaksikan melalui layar kaca, tidak hanya fans peserta yang terlibat saja tetapi mereka adalah penikmat sepak bola itu sendiri. Apa pun dan siapa pun yang main tidak menjadi masalah, karena kepuasan itu berasal dari permainan sepak bola itu sendiri. Akan sangat menarik jika dalam prosesnya banyak kejutan dan intrik yang menaikkan emosional para penikmatnya, apalagi jika yang menang adalah tim yang mereka dukung.

World Cup 2014 merupakan selingan daripada senimanan lapangan hijau ditengah jeda setelah selesainya musim kompetisi  pertandingan klub-klub dimana para pemain berada untuk mengolah si kulit bundar. Bagi para pecinta sepakbola ini  adalah suatu berkah karena tidak terlalu lama untuk menunggu dan menikmati keindahan si kulit putih sebelum musim kompetisi baru masing-masing liga dimulai. Semua pemain yang tersebar di berbagai klub dan berbagai negara akan berkumpul menjadi satu tim nasional yang membawa nama masing-masing negara mereka yang lolos untuk mengikuti event di setiap empat tahun ini. Begitu juga para fans, sementara akan melupakan ego dan fanatisme mereka akan klub yang mereka dukung karena yang bermain saat ini adalah negara. Sebab klub yang memiliki rivalitas tinggi bisa saja memiliki para pemain yang berasal dari satu negara.

Nah, sisi positif lain dari World Cup 2014 ini saya rasa adalah sebagai salah satu peredam ditengah panas dan gencarnya kampanye politik dalam pemilihan capres dan cawapres yang baru di 9 Juli nanti. Perhatian kita bisa sementara teralihkan dari hiruk pikuk ruang politik dengan janji-janji iklan yang kadang sampai membuat sakit kepala. Masa musim puasa juga menjadi salah satu alternatif yang membisa dan meredam panasnya kampanye politik ini dan selain puasa, bisa menikmati sahur sambil menonton bola. Jadi ibaratnya, di matahari terbit sampai terbenam kita disuguhkan dengan berita dan iklan kampanye, dan mereka yang puasa harus bisa menahan rasa lapar. Dan malam sampai pagi, bisa membuang itu semua dengan hiburan para pengolah si kulit bundar.

Intinya disini adalah, dalam satu dua bulan ini, tiga event berjalan hampir bersamaan dan mereka masing-masing bisa saling meredam dan melengkapi, World Cup 2014, musim kampanye capres dan cawapres 2014 dan bulan puasa di tahun 2014. Semoga pemilu 9 Juli 2014 nanti berjalan lancar dan masing-masing peserta dan pendukungnya bisa menerima kekalahannya dan bagi yang menang bisa melakukan apa yang menjadi janji-janji kampanye dalam bentuk visi dan misi. Dan yang terutama adalah masyarakat Indonesia menikmati ketiga hal tersebut dengan senang hati. Salam garuda merah dan salam dua jari, Prabowo Hatta vs Jokowi JK.